Selamat membaca

Selasa, 05 Januari 2010

Arsitektur Tradisional Jawa (Joglo)

Arsitektur tradisional Jawa terutama di wilayah Jawa Tengah lebih banyak dikenal dengan bangunan Joglo. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru. 
 
Rumah Joglo pada umumnya hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materi lebih. Hal ini disebabkan dalam membangun rumah Joglo dibutuhkan material yang banyak dan cukup mahal karena sebagian besar material berasal dari kayu jati serta membutuhkan perawatan tersendiri. Sedangkan dari segi sosial masyarakat, bentuk Joglo dianggap hanya boleh dimiliki orang-orang terpandang terutama dari kalangan bangsawan. Selain itu, pada bangunan Joglo terkandung filosofi yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan. 

 `Pendhopo sebagai ruang terbuka berfungsi untuk menerima tamu. Struktur bangunan pada pendhopo menggunakan umpak sebagai alas soko, 4 buah soko guru ( tiang utama) sebagai symbol 4 arah mata angin. dan 12 soko pengarak, serta Tumpang sari merupakan susunan balik yang disangga oleh soko guru. Umumnya tumpang sari terdapat pada pendopo bangunan yang disusun bertingkat. Tingkatan-tingkatan ini dapat pula diartikan sebagai tingkatan untuk menuju pada suatu titik puncak, yang terdiri dari serengat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Menurut kepercayaan jawa, tingkatan-tingkatan ini akan menyatu pada satu titik.

Ndalem ini adalah pusat susunan ruang-ruang di sekitarnya. Fungsi utamanya adalah sebagai ruang keluarga. Sifat ruangan ini pribadi, suasana yang ada di dalamnya tenang dan berwibawa. Pada pola tata ruang ndalem terdapat perbedaan ketinggian lantai sehingga membagi ruang menjadi 2 area. Pada lantai yang lebih rendah di gunakan sebagai sirkulasi sedangkan pada bagian yang lebih rendah digunakan sebagai ruang keluarga dan senthong. 

Solo sendiri masih memiliki bangunan rumah Joglo yang masih eksis hingga saat ini. Berikut adalah beberapa bangunan rumah Joglo yang terdapat di Solo:



Rumah joglo milik Ibu Hj Mulyorahardjo merupakan salah satu rumah jawa di wilayah Laweyan yang masih terjaga keasliannya meskipun kurang terawat. Beberapa kolektor barang antik bahkan telah menawar untuk membeli rumah joglo ini namun oleh pemilik saat ini rumah joglo tersebut belum untuk dijual



Rumah Joglo milik Bp Afrozin ( Dakon Mas ) terletak di Kauman. Selain berfungsi sebagai rumah tinggal juga berfungsi sebagai tempat usaha batik. Pada bangunan ini terdapat perpaduan arsitektur Indis dengan arsitektur tradisional Jawa. 



 

Rumah di Jl Slamet Riyadi yang saat ini berfungsi sebagai pusat salah satu calon gubernur Jawa Tengah

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar